Stumbler
Dini hari ini, langit tampak cerah sekali dengan bertaburnya bintang-bintang nun jauh disana. Hembusan angin malam kurasa sangat kencang, menyerupai badai gurun yang siap mengibaskan apa saja yang ada. Tetapi aku merasa pikiranku cukup jernih untuk melakukan semua hal yang aku rencakan esok hari.
Lama Sudah aku tidak menulis seperti ini, web blogku yang satunya juga gak pernah update lagi. Di satu sisi kita juga saudah lama tidak bertegur sapa, lewat apapun. Ada YM, ada sms, ada e-mail, ada telfon…, tetapi hanya diam yang kita lakukan. Hingga sengaja kutuliskan anonim ke ruang publik seperti ini berharap suatu saat energinya akan pernah menyentuhmu entah
dengan cara apa.
Kadang semua ini terasa seperti siklus yang berulang, ketika kita
merasa pada suatu saat kita sampai lagi pada situasi yang sama.
Membicarakan hal ini dengan seorang teman dekat, lalu kita jadi tergelak,
ternyata dari semua skenario yang pernah aku bayangkan, pembuat skenario
agung selalu punya skenario yang lebih bagus. Bahkan aku rasa, Dia punya
sense of humor yang jauh lebih menarik dari yang kita bayangkan. Bahan
candanya adalah hidup kita sendiri, sering kita tidak cukup fair
dengan banyak hal, dan Dia masih saja berlaku adil dan bijak dengan
caraNya sendiri.
Kemarahan selalu bisa jadi sumber energi tapi aku selalu terlambat
menyadari bahwa itu juga bisa begitu mudah menghancurkan semuanya. Tak
ubahnya adalah pengaruh buruk yang menajamkan pisau yang menggarit luka
dan ketakutanmu. Sungguh aku sesalkan semuanya, ketika akhirnya aku
sampai disini. Terlempar ke jurang rindu yang merentang dari kemarahanku
dan kebencianmu tentang hal itu.
Sungguh, tiap saat setelah aku sadari semuanya, aku kirimkan doa
kecil yang kuselipkan tiap saat, sambil kukenang semua yang indah yang
bisa kukenang dari kehadiranmu. Aku mencoba menghubungkan energi yang
kuperoleh dari kehadiranmu untuk mengusir rasa gelisah dan marah yang
kupikirkan di lingkaranmu.