Setahun Setelah Tsunami itu …

February 10th, 2006 by kcnkrn

Antara Sedih, Senang, Bangga, dan Tidak Tahu Harus Bilang Apa

Setahun sudah di Pulau Sumatera. Sebelumnya tidak pernah aku bermimpi dan berkeinginan untuk menginjakkan kaki di pulau ini. Kalu boleh di bilang aku malah lebih berkeinginan ke pulau Kalimantan, Sulawesi, atau Papua. Tetapi fakta bicara beda, 26 desember 2004, Bencana gempa bumi dan Tsunami yang telah memporakporandakan Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumut, telah membawaku kemari. Cerita demi ceritapun mengalir selama setahun di Sumatera.
29 Desember 2004, Menginjakkan kaki di Jakarta, bermaksud untuk ikut menjadi relawan IT, bergabung dengan teman-teman lain di APJII. Malamnya, dengan membawa segala perangkat telekomunikasi, Vsat, Hub, RIG, HT, berangkatlah ke Bandara Halim Perdanakusuma, dengan harapan dapat ikut penerbangan ke Aceh malam itu. Ok, peralatan dan perbekalan telah masuk ke pesawat. Deng….dong….., pesawat overload, sehingga banyak penumpang yang tidak bisa masuk, termasuk dari tim kami. Tetapi barang terlanjar masuk, gimana neh ?? lobi dan lobi, dua orang bisa masuk. Aman.
Aku bersama 3 kawan lainnya masih tertinggal di Jakarta, menunggu dapat penerbangan ke Aceh. 31 Desember 2004,  bersama PMI Jakarta pusat, kita di ajak ikut masuk ke rombongannya, dengan diberi atribut PMI.
Bermalam tahun baru 2005 di Bandara Halim, ngantri pesawat ke Aceh. Menikmati langit Halim, yang di kejauhan sana masih saja ada yang berpesta kembang api, tetep aja indah. Tak terasa, matahari pun telah muncul, ratusan orang telah berkumpul, hendak berangkat ke Aceh. Jam 08.00, masuk ke Hercules milik Australia, e…e…. ada kamera RCTI yang mengawasi kita ternyata, hore masuk tivi!!!
Setelah diberi pengarahan oleh kru pesawat, dan semua telah siap di posisinya masing-masing, pesawatpun tinggal landas meninggalkan Halim Perdanakusuma dan Jakarta menuju Sumatera kemudian Aceh.

Naek Hercules pertama.
    Masuk pesawat Hercules milik angkatan udara Australia, tidak banyak orang ternyata, hanya sepuluh orang penumpang aja. 6 orang dari PMI Jakarta Pusat, dan 4 orang dari airputih. Setelah sekian lama hanya bisa menikmati langit pulau jawa yang tiada indah-indahnya, kepulan asap kota yang penuh polusi, melihat hutan yang gundul dimana-mana, pusat-pusat penghijauan kota yang telah di sulap menjadi mall dan ruko.
    Perlahan dan pasti, pesawat meninggalkan Jakarta, meninggalkan kepulan asap kota yang menyesakkan. Tanah Sumatera, adalah bagian dari NKRI (Negara Kebetulan Republik Indonesia : kalo kata Fahmi) terhampar luas, hijau, hutannya meskipun sudah masuk kategori rusak, tapi masih jauh lebih indah dibandingkan dengan hamparan pulau jawa, yang telah kehilangan penghijauan, parah.
    Awan, bergumpal-gumpal indah menyelimuti Hercules yang terus melaju menyisiri pulau Sumatera. Masuk daerah Sumatera Utara, dari Hercules terlihat Danau Toba dengan Pulau Samosir-nya yang cantik. Perlahan Hercules menuju pinggiran pulau, terbang rendah menyisiri pantai barat Aceh, yang terkena gelombang Tsunami. Astagfirullah…. Semua mulut bergumam, parah sekali. Acara foto-foto, potret sisa-sisa Tsunami. Pesisir Aceh, telah hancur, porak poranda, tidak terlihat lagi adanya rumah atau bangunan berdiri, semua hancur.

Banda Aceh dan Wisata Mayat
    Hari pertama tahun 2005, kuinjakkan kakiku di tanah pulau Sumatera, tepatnya di NAD, Bandara militer Sultan Iskandar Muda. Suasana masih begitu mencekam, ribuan pengungsi berada di sekitar bandara, menjauhi pantai. Trauma.     Hal pertama yang harus dilakukan adalah harus mencari 2 orang yang duluan masuk ke aceh, Alfian dan Anjar. Kontak HP gak bisa dilakukan, hanya sebelumnya telah ada kabar kalau kedua kawan tersebut telah bergabung di posko BRI jalan Sudirman. Setelah mendapatkan tumpangan keluar dari bandara, naik mobil ambulan yang sedikit berbau “mayat” diantarkannya kita mencari posko BRI di jalan Sudirman. Kebetulan, saat itu Anjar di depan rumah, jadi cepat terlihat, dan kita tergabung kembali.
    Dengan sigap, kita ceking peralatan dan perlengkapan, Vsat dari Pasific Satelite Nusantara (PSN) terpasang. Setelah pointing kiri dan kanan, atas dan bawah, sinyal kita dapatkan. Internet Up. Posko BRI Sudirman telah terkoneksi dengan internet. Data dari Banda Aceh bisa terkirim keluar dengan menggunakan email, wartawan bisa dengan cepat mengirimkan update berita. Dengan harapan bantuan untuk aceh bisa cepat mengalir dan tersalurkan. Kendalanya adalah listrik, ketika genset mati, maka pasokan listrik juga tiada. Artinya internet juga mati.
Penjajakan dulu ah, jalan-jalan wisata mayat. Bencana ini memang hebat sekali. Dimana-mana mayat berserakan, belum ada yang ngurusin. Etapa tidak, yang di urus ama yang ngurus banyakan yang di urus. Tapi seiring itu semua, makin hari makin banyak pula relawan-relawan yang masuk ke aceh, untuk evakuasi mayat.
    Dua hari di posko BRI Sudirman. Setelah saluran telepon dari telkom bisa masuk ke posko BRI, Internet dengan dial up pun bisa di lakukan. Kemudian kita harus pindah. Bergabung dengan PMI.

Posko PMI-Toyota
Tidak pernah terlepas dari nama seorang Alvis, tukang dokumentasinya PMI Jakarta pusat, yang juga sekaligus merangkap coordinator dari tim PMI Jakarta Pusat, yang juga memberikan kita atribut PMI saat hendak naik Hercules, biar bisa ikut terbang ke Aceh.
Melihat kesemrawutan di banda aceh, tim PMI yang terkesan gerak sendiri-sendiri, tidak terkoordinir dengan baik, punya posko dimana-mana dan berantakan. Otak gila seorang Alvis pun bermain, putar kiri putar kanan, ketemu showroom Toyota kosong, hanya ada seorang penjaga. Setelah nego beberapa saat, deal. Showroom Toyota, di Leungbata, menjadi posko bersama PMI serta IFRC dan ICRC.
Menjadi skala prioritas, perlengkapan telekomunikasi harus ada. Dan Airputih yang punya. Maka, setelah mendengar kabar, posko BRI telah terkoneksi dengan telkom, penjemputan Airputih dan segala peralatannya pun di lakukan. Pindah ke posko PMI-Toyota, Leungbata. Sore itu juga setup Vsat dilakukan di posko Toyota. Internet is Up.
Kita termasuk menjadi penghuni pertama di posko Toyota. Malam itu mungkin tidak lebih dari 25 orang saja. Masih senyap, listrik sering padam, gempa bumi setiap hari terjadi. Bayangkan, listrik mati, di luar hujan mengguyur, gempa bumi mengguncang, kita harus segera keluar dari gedung, gelap, tapi harus keluar.
Dari hari ke hari posko Toyota ramai dengan orang. Para relawan PMI bergabung di dalamnya. Bahan-bahan bantuan, berupa makanan, pakaian bekas juga masuk. Kurang dari seminggu, posko Toyota sudah sesak dengan barang-barang dan manusia. Apalagi kalo malam, disaat semua berkumpul, setelah siangnya bekerja, ada yang evakuasi mayat, ada yang distribusi bantuan. Jam-jam istirahat, dimana-mana ada orang tidur, ada yang di tenda, ada yang diatas bahan bantuan, ada yang di sela-sela tumpukan dus, dimana sajalah, semua bergabung bersama seperti ikan pindang, tergeletak dimana-mana, orang tidur berserakan.
Membuat media center, sesuai dengan misi utama “Aceh Media Center” di posko PMI-Toyota. Siapa saja boleh dan di ijinkan menggunakan internet, untuk keperluan-keperluan pengiriman data, dll. Dari wartawan, relawan PMI, NGO-NGO, bule-bule IFRC, ICRC dll, semua boleh menggunakan internet. Free.
Setelah beberapa waktu tinggal di Toyota, sepertinya pemilik showroom tidak begitu bersahabat dengan rekan-rekan relawan. Kami semua seperti terusir, harus segera meninggalkan Toyota. Syukurlah, masih ada nasib baik. Showroom Mitsubishi masih menyediakan tempat buat kita, relawan. Pindah, dari satu showroom menuju showroom yang lain.

Asmara bersama di Toyota
    Jauh dari rumah, jauh dari pacar (bagi yang punya pacar), kadang membuat hidup ini terasa gak lengkap. Keberadaan “perempuan” ternyata punya banyak arti juga. Tidaklah pacaran, kenal juga barusan, tapi rasa keterkaguman itu ada. Diantara kami ada aku, Lukman, Ajie, Abidin, Wita (cowo neh) dan ada perempuan dari PMI pusat, adalah seorang utusan yang di tugaskan untuk mendampingi IFRC. Miranti Namanya. Bergurau, becanda, ngobrol ngalor-ngidul, sarapan pagi, makan siang di dapur umum kita selalu bersama. Cara pendekatan kita berbeda-beda, Wita dengan caranya, Abidin dengan stylenya, lukman dengan muka temboknya, sementara aku, hanya melihat dan menikmati, sesekali main belakang “sms”, dasar pengecut!!! Membuat orang lain yang melihat keakraban kami jadi cemburu. Cantikkah perempuan bernama Miranti ???  sudah lupa, kebetulan di galeriku gak ada.
Natalia Giovanni, perempuan ini datang setelah kita di tinggalkan Miranti. Cantikkah ??? lumayan. Kembali persaingan sehat dan terbuka di mulai.  Dari ngajakin nyari tempat mandi, ngajakin ke warung kopi, atau sekedar makan ayam goreng. Setidaknya kelakuan gila kami membuat heboh dan cemburu orang lain. Kenapa demikian ?? karena setiap ada perempuan yang “lumayan” selalu saja dekat dengan kita. Bolehlah sombong dikit. Titik dua pe.
Sayangnya, cewe-cewe ini dekat dengan kita gara-gara internet dan fleksi gratis yang kita miliki saat itu. Bukan naksir orang-orangnya. Kacian deh luuu!!! Suatu ketika Lia, panggilan dari Natalia, curhat kalo si doi lagi suka ama seseorang di posko Toyota, Quyhn, seorang relawan dari Kanada yang bergabung di PMI, gayanya yang aneh, kadang agak gila, tapi bernasib baik. Tetapi nasib baik di Quyhn, bukan menjadi nasib baik di Lia. Quyhn, dingin-dingin aja tuh. Weks, titik dua pe lagi. Adil, tetap menjadi milik bersama.

Tabina Net dan Pendopo Gubernur NAD
Kebutuhan akan transformasi data semakin besar, kebutuhan bandwith pun terasa semakin besar. Tabina Net, adalah merupakan salah satu internet service provider (ISP) yang ada di Banda Aceh. Setelah bisa menghubungi pemiliknya, dan ketemu dengan orangnya, internetnya pun bisa di hidupkan kembali. Yang sejak 26 desember 2004 mati. Internetpun bisa terdistribusi hampir ke seluruh Banda Aceh.
Menggunakan Cisco BR350 di BTS, dan dengan beberapa Cisco BR350, BR1310, kita menghubungkan beberapa titik di Banda Aceh dengan internet. Tidak terkecuali adalah pendopo gubernur NAD. Sebagai pusat informasi, pusat keramaian, pusat koordinasi, dan tempat berkumpulnya orang-orang.
Di belakang Pendopo ini ada sebuah tower, tidak terlalu tinggi, tetapi cukuplah untuk memasang radio wireless. Dibawah tower, ada sebuah tenda warna kuning, milik departemen dalam negeri, yang selanjutnya kita pergunakan sebagi media center. Masih dengan menggunakan colok kabel. Maklum, hotspotnya masih terbatas.

Seutui-Teuku Umar 31
Setelah sekian lama nebeng posko di PMI, sepertinya sudah tidak kondusif lagi. Harus pindah, karena kru kita udah semakin banyak. Dapatlah sebuah ruko, di daerah Seutui, jalan Teuku Umar nomer 31. Rukonya sih berlantai 3, tapi ada loteng, kita sebut lantai 4, dan ada tempat nongkrong kita kalo malam, lantai 4 ½ . Hebat kan ???
Rumahnya sunyi, terkesan banget dengan dunianya mak lampir. Tapi syukurlah, Tuhan memberikan aku kelebihan untuk tidak bisa melihat makhluk-makhluk yang halus. Kalo yang mulus-mulus, matanya masih tajam jessss…. Titik dua pe.
Buat apa takut, lagian disini kan temennya banyak, saat itu setidaknya ada sekitar 15 orang yang tinggal di posko. Rasanya seneng banget, mereka rata-rata adalah temen baru, baru kenal, meski sama2 dari Malang. Semangat kebersamaan itu tumbuh bebas sekehendak hati. Kerja tanpa beban, karena kita berfikir, tidak ada orang yang mengenal kita ini siapa.
Tidak punya kendaraan sendiri, dikasih uang sih buat naek becak, tapi lebih baek di hemat, atau dibelikan rokok ajalah, daripada buat naek becak. Becak saat itu mahal sekali, berapapun jaraknya, 20 ribu (tarip jauh dekat sama saja) titik dua De. Susah dan senang kita rasakan bersama. Tidak ada istilah manja, hanya orang buta yang bilang kita manja.
Tapi kemudian kita punya mobil, punya sepeda motor, meski statusnya pinjeman. Kemana-mana gak pernah jalan kaki lagi. Bahkan sekarang, mau ke surga dan neraka pun (kalo mau) bisa dianterin pak sopir pake mobil CRV.  Mobil di pake jalan-jalan yang gak jelas juga oke, tapi kalo buat kerja…. Kasian pak sopirnya, bentar-bentar panen telpon. Fakta loh…..
Ya sudahlah, buktinya sampe sekarang juga masih di sini, di ruko tua, Jalan Teuku Umar 31 Seutui, Banda Aceh.

Pre-Wimax
Merupakan salah satu proyek terbesar yang dikerjakan Airputih di Banda Aceh. Teknologi wimax ini berkemampuan untuk membawa bandwith yang besar. Teknologi pre-wimax (karena memang masih langkah awal menuju wimax yang sebenarnya) merupakan sarana telekomunikasi masa depan. Dengan kemampuan jarak jangkaunya yang jauh, diharapkan bisa mengcover area yang lebih besar pula.
Di Banda Aceh sendiri sekarang telah di dirikan tiga Base Station (BTS) diharapkan telah bisa mengcover Banda Aceh. Saat ini telah lebih dari 40 titik terhubungkan pada tiga BTS tersebut. Titik-titik tersebut terdapat pada instansi pendidikan, LSM/NGO, dan instansi pemerintah.
Beberapa titik hotspot juga kita bangun, sehingga sangat memungkinkan sekali, ketika kita berada di warung kopi, atau dimanapun, selama berdekatan dengan titik hotspot yang kita bangun, kita bisa terhubung dengan internet.

Banda Aceh-LamNo-Calang
    Perjalanan paling seru dan menyenangkan. Pemandangan yang indah bisa kita saksikan sepanjang jalur yang kita lewati. Jalanan yang hampir kesemuanya adalah menyisiri pantai, waw….. menakjubkan sekali. Dikiri hutan dan gunung yang hijau, di kanan hamparan laut luas yang biru. Monyet-monyet masih suka bermain-main di jalan raya. Keindahannya mendekati sempurna.
Menyenangkan kedua, saat berpetualang ke LamNo dan Calang. Melewati jalan-jalan darurat karena jalan sebelumnya sebagian besar rusak oleh bencana Gempa Bumi dan Tsunami. Jalan darurat ini masih berupa tanah, disana sini sudah rusak parah, seperti sawah. Karena banyak jenis kendaraan yang tidak semestinya lewat, tapi karena terpaksa harus mengirimkan bahan-bahan bantuan, jadinya harus lewat jalan ini juga. Banyak kendaraan biasa yang terperosok, bahkan yang 4×4 aja masih bisa tersangkut. Butuh perjuangan untuk melewati jalan ini. Off road deh…… bersama teman-teman dari Flora and Fauna International.
Di Lamno, nginap di poskonya Caritas Ceko, makan kepiting bumbu kare. Makan kepiting asik juga, gak terasa beberapa jam kita lalui, masih banyak kepitingnya, tangan, dan gigiku capek duluan. Mengikuti napsu gak ada abisnya. Abis makan kepiting melanjutkan obrolan bersama Tengku Lukman, yang pernah menjadi Panglima dan pakar hukumnya GAM.
Melanjutkan perjalanan ke Calang, lebih menyenangkan dan menegangkan. Perjuangannya lebih keras lagi. Tarik mobil sana tarik mobil sini. Jalannya lebih hancur lagi ternyata. Off road-nya lebih panjang dan melelahkan. Gunung Mancang, menjadi route perjalanan yang paling berat.  Puluhan kendaraan telah tertancap tak berkutik, bahkan katanya ada yang sudah menginap disitu. Satu persatu berusaha kita bantu tarik, beberapa berhasil bangkit.
Makan duren. Setelah melalui perjalanan dan perjuangan berat, memasuki jalan yang lumayan bagus, istirahat dulu lah. Ngopi-gopi di warung kopi, makan duren sepuasnya. Sedap betul…..
Sampe juga di Calang. Calang, adalah ibukota kabupaten Aceh Jaya. Calang, penduduknya yang tinggal empatpuluhan persen, karena Calang luluh lantak, rata dengan tanah. Diserang Tsunami dari tiga penjuru pantainya. Tiada satupun bangunan yang tersisa, semuanya hancur. Calang, malang nian nasibmu. Setelah itu semua tinggal di tenda atau barak-barak pengungsi. Sementara aku sendiri juga tinggal di tenda, bersama teman-teman di FFI.
Sebelumnya, teman-teman telah berhasil setup internet di Calang. Aku disini tinggal maintenance dan upgrade beberapa peralatan. Seperti antenna omni yang terpasang di UN-OCHA, sebelumnya hanya terpasang di bekas tiang telepon yang tak terpakai, sekarang kita pindahkan nebeng di tower milik UN-WFP. Trus lagi antenna omni di MDM, sebelumnya hanya 9 dB, diganti dengan 12 dB, biar coverage areanya semakin luas. Begitulah, pekerjaanku gak jauh-jauh beda dari sebelumnya, masih ngurusi networking.

Calang-Meulaboh-Geumpang-Banda Aceh
Kalau sebelumnya perjalanan dilakukan dengan menyisiri pantai, yang ini sedikit berbeda. Kiri kanan hutan belantara, jalannya berdebu, harap pakai masker. Tetapi hutan ini pun hampir rusak, rusak karena ulah para cukong illegal logging. Penebangan liar dimana-mana. Suara desingan mesin-mesin pemotong kayu mendayu-dayu dimana-mana. Hutanku akan habis.
Meulaboh, ibukota kabupaten Aceh Barat, kota terbesar kedua setelah Banda Aceh. Seperti halnya Banda Aceh, sebagian kotanya hancur juga karena Gempa Bumi dan Tsunami. Saat awal-awal dulu Meulaboh sempat menjadi pusat perhatian. Tidak ada jalan masuk melulaboh kecuali dari udara. Tapi sekarang sudah bisa tertempuh dengan perjalanan darat. Dengan menyisiri hutan belantara yang masih hijau, kicauan burung masih terdengar dimana-mana.
Diantara hutan belantara itu, setiap 500 meter kita akan menemui pos-pos penjagaan TNI/Brimob. Sepertinya memang daerah ini masih rawan, sehingga perlu di bangun begitu banyak pos. Poskonya ada yang terbuka dan bersifat permanent, ada pula yang bersifat sementara, terlihat bahannya hanya dari cabang dan ranting pohon, beratapkan dedaunan, yang seperti inilah yang kemudian di kenal dengan sebutan pasukan Raider, pasukan yang tidak pernah diam, selalu bergerak dan berpindah-pindah. Perang memang kejam.
Sisi lain dari semua itu adalah keindahan alamnya yang masih luar biasa (maklum aku kan dari jawa, dan di jawa sudah tak ada lagi pemandangan seperti ini). Terdegar kicau burung dari hutan, suara-suara hewan hutan juga masih begitu lengkap. Di kejauhan terlihat hamparan sawah, dengan padinya yang mulai menguning, top banget. Melihat sungai yang airnya jernih, ikan-ikan kecil menari di air. Terasa ingin sekali aku melompat dan berenang bersama ikan-ikan itu.

Sabang
Dari sabang sampai merauke berjajar pulau-pulau, sebuah potongan lagu penghitungan wilayah nusantara. Sabang, terletak di pulau Weh, ujung barat wilayah Indonesia. Kilometer 0 (nol) berada disini, perhitungan luas Indonesia di mulai. 05o 54’ 21,42” Lintang Utara dan 95o 13’ 00,50” Bujur Timur.
Pulaunya cantik dengan berbukit-bukit, dan masih banyak pulau-pulau kecil yang mengelilinginya. Pulau Bariah, tempat snorkeling, menikmati keindahan alam laut yang kaya dengan keanekaragamaan kehidupan lautnya. Kemudian di Iboih kita bisa berenang-renang di pantainya yang jernih. Di Gapah, kita bisa belajar diving. Lengkap dengan pelatih dan perlengkapannya bisa sewa di tempat. Banyak wisatawan datang kesini sekedar untuk berjemur atau banyak juga yang latihan diving.

Ujong Batee-LhokNga-Lampu’u
Ini semua adalah lokasi-lokasi wisata yang berada di sekitar Banda Aceh. Ujong Batee, letaknya sekitar 15 km arah utara dari Banda Aceh. Disini kita bisa menikmati segarnya udara pantai dengan segala macam tumbuhan yang tumbuh di sekitarnya, pantainya yang panjang, bersih, enak untuk mandi-mandi laut. Cuma, disini kita tidak bisa menikmati sunrise maupun sunset.
LhokNga, tempat untuk merenung, mengadukan nasib, menikmati indahnya sore, menantikan saat-saat matahari terbenam. Kurang enak buat mandi, pasirnya yang kasar, karena mengandung banyak pecahan-pecahan karang, membuat kaki kaki kita sakit, belum lagi kalo di banting ama ombak, bisa-bisa tubuh kita ikut tergores karang yang tajam.
Lampu’u, terdapat dua kapal besar yang terdampar disini. Pantainya sama indahnya dengan di LhokNga. Kita bisa juga menikmati sunset disini, bedanya disini posisinya di pinggiran jalan raya, jadi kurang bisa enjoy. Deburan ombaknya yang besar dan menggulung-gulung, seringkali dipakai buat latihan surfing bagi pegila surfing.

Tano Niha (Tanah Nias)
Nias, pulau yang cantik, malah katanya lebih indah dari pulau dewata Bali. Ombak lautnya yang terkenal besar dan menggulung membuat banyak para wisatawan asing datang kepulau ini untuk bermain surfing. Bisa di Sorake, Pulau Telo, dan masih banyak tempat-tempat lain yang bisa dijadikan tempat surfing.
Tetapi untuk membuat Nias menjadi maju, itu perlu perjuangan besar dan panjang. Penduduknya yang masih tergolong primitive dan berpendidikan rendah membuat nalar dan pikirannya sulit untuk berkembang. Tanah Nias yang subur, tidak di ikuti perkembangan pikiran, maka tanah subur tersebut menjadilah sekedar tanah, yang di tumbuhi oleh beraneka ragam pohon dan rerumputan. Kehidupan penduduk Nias di daerah-daerah pedalaman rata-rata masih berburu hewan-hewan di hutan. Mereka belum bisa bercocok tanam. Untuk makan nasi mereka harus beli, dan mendatangkan terlebih dahaulu daru pulau Sumatera. Inilah, kenapa harga makanan di Nias tergolong mahal.
Kebiasaan hidup keras yang mereka jalani tdak bisa terlepas dari kebiasaan minum tuak. Tua, muda, laki-laki, perempuan, hampir semua minum tuak. Menjadikan tingkat emosi mereka meningkat, pola pikirnya lamban. Bagaimana tidak, sebelum rapat/meeting mereka minum tuak, alasannya sederhana sekali, biar berani bicara. Di Nias, dengan uang lima ribu rupiah sudah bisa jungkir balik karena mabok. Asoka, brengkol, tuak nias adalah merk-merk minuman racun pemabok yang murahan. Tetapi kalau pengen yang mahal juga tersedia, controu, jhoni walker, dll. Tetapi untuk membuat perut kenyang kita harus mengeluarkan uang setidaknya sepuluh ribu rupiah, itupun masih makan seadanya, jangan berharap berlaukkan ayam goreng. Bangsat.
Seperti halnya di Banda Aceh ataupun di Calang, sebelumnya sudah ada kawan yang setup Internet di sini. Aku tinggal maintenance, yang kemudian hari harus memindahkan peralatan vsat dan perlengkapannya mengikuti perpindahan UNOCHA. Dari pendopo Gunung Sitoli ke Fodo, kurang lebih 10 km dari kota Gunung Sitoli. Dan pindah lagi ke BRR Nias. Di pinggir pantai.
Jalan-jalan ke Nias Selatan, Teluk Dalam, berwisata dan berpelesir. Seperti halnya bule-bule itu, ada yang berjemur, ada yang main surfing, menikmati sunrise di pantai Sorake. Indah sekali, deburan deburan ombak yang menggulung tinggi, membuat surfer-surfer kesenangan. Setelah itu melihat-lihat kampung adat di Nias, kampung Bawuo Matoluo, melihat benda-benda kas adat bersejarah. Dari perumahan, senjata, peralatan perang, peralatan berburu, kampung ini masih berbau sekali dengan magisnya. Pulang dari Teluk Dalam sudah sedikit kemalaman, di jalan sempat dibuat berdebar dengan ulah beberapa pemuda (preman kali ya) desa. Awalnya mobil kami di hentikan oleh dua orang pemuda, mereka bawa senjata tajam. Kemudian bermunculan banyak sekali kawan-kawannya, lebih dari sepuluh orang. Jantungku berdebar keras, antara takut dan…. Entahlah. Alhamdulillah, berkat bantuan yang punya mobil, orang Nias Asli, maka kami dapat bebas. Lega sekali rasanya.

Apakah sudah lengkap perjalanan ini ??? masih panjang mennnnn…… tunggu kisah berikutnya yaa….

Suatu sore di pantainya BRR Nias

December 7th, 2005 by kcnkrn

Cetingan, duduk-duduk nyantai menghadap ke laut, usai ngerjain tugas tugas. masang Vsat udah selesai, cukuplah dengan 13,6 dB. masang hotspot juga udah selesai, nge-LAN udah beres, media center udah jalan lagi, settingan koneksinya juga otomatis… kurang apalagi yak ?? (kurang ajar kali yak…)
o iya, PR dari kang Ade untuk auditing juga udah selesai, tinggal nyariin tandatangan dari "ibu" Sonya UNOCHA aja yang belom, soalnya doi lagi ke Sirombu. entar deh di cari lagi. PR dari pak boss Okta juga udah beres ditandatangani Ebes Migo.
pikiran jadi lega semua deh….., besok bisa balik ke banda aceh… semoga dapet sit penerbangan ajalah

memandang laut lepas, seakan pengen ikutan terjun bebas, bebas mencintai kasihku (kalo kata abang tantowi), sayangnya gak ada sunset disini. adanya Sunrise, tapi gak pernah liat juga, masih keenakan molor di tempat tidur, mana sempat liat terbitnya mentari :P
semilir angin, deburan suara ombak pasang, kicauan burung-burung pantai… lengkaplah sudah keindahan alam ini. Keaguang ciptaan yang Kuasa….

Stumbler

July 9th, 2005 by kcnkrn

Dini hari ini, langit tampak cerah sekali dengan bertaburnya bintang-bintang nun jauh disana. Hembusan angin malam kurasa sangat kencang, menyerupai badai gurun yang siap mengibaskan apa saja yang ada. Tetapi aku merasa pikiranku cukup jernih untuk melakukan semua hal yang aku rencakan esok hari.

Lama Sudah aku tidak menulis seperti ini, web blogku yang satunya juga gak pernah update lagi. Di satu sisi kita juga saudah lama tidak bertegur sapa, lewat apapun. Ada YM, ada sms, ada e-mail, ada telfon…, tetapi hanya diam yang kita lakukan. Hingga sengaja kutuliskan anonim ke ruang publik seperti ini berharap suatu saat energinya akan pernah menyentuhmu entah
        dengan cara apa.

       

Kadang semua ini terasa seperti siklus yang berulang, ketika kita
        merasa pada suatu saat kita sampai lagi pada situasi yang sama.
        Membicarakan hal ini dengan seorang teman dekat,  lalu kita jadi tergelak,
        ternyata dari semua skenario yang pernah aku bayangkan, pembuat skenario
        agung selalu punya skenario yang lebih bagus. Bahkan aku rasa, Dia punya
        sense of humor yang jauh lebih menarik dari yang kita bayangkan. Bahan
        candanya adalah hidup kita sendiri, sering kita tidak cukup fair
        dengan banyak hal, dan Dia masih saja berlaku adil dan bijak dengan
        caraNya sendiri.

Kemarahan selalu bisa jadi sumber energi tapi aku selalu terlambat
        menyadari bahwa itu juga bisa begitu mudah menghancurkan semuanya. Tak
        ubahnya adalah pengaruh buruk yang menajamkan pisau yang menggarit luka
        dan ketakutanmu. Sungguh aku sesalkan semuanya, ketika akhirnya aku
        sampai disini. Terlempar ke jurang rindu yang merentang dari kemarahanku
        dan kebencianmu tentang hal itu.

       

Sungguh, tiap saat setelah aku sadari semuanya, aku kirimkan doa
        kecil yang kuselipkan tiap saat, sambil kukenang semua yang indah yang
        bisa kukenang dari kehadiranmu. Aku mencoba menghubungkan energi yang
        kuperoleh dari kehadiranmu untuk mengusir rasa gelisah dan marah yang
        kupikirkan di lingkaranmu.